Tampilkan postingan dengan label Masalah Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masalah Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Mommyrexia, Gangguan Makan Selama Kehamilan yang Membahayakan Janin

 
Banyak wanita khawatir akan berat badan dan bentuk tubuhnya yang tidak lagi ramping setelah hamil dan melahirkan. Bahkan beberapa orang seperti selebriti sengaja membatasi nafsu makannya ketika hamil, yang digambarkan dengan istilah mommyrexia dan diketahui membahayakan janin.

Wanita yang sedang hamil akan mudah merasa lapar dan mengalami peningkatan nafsu makan karena harus memenuhi kebutuhan energi untuk dua orang. Sehingga menekan nafsu makan dan mengabaikan rasa lapar ketika hamil tentunya berbahaya bagi perkembangan janin yang sangat membutuhkan nutrisi.

Mommyrexia adalah istilah yang serupa dengan gangguan makan anorexia, yang menggambarkan kondisi dimana seorang wanita hamil terobsesi dengan tubuh yang kembali ramping dengan cepat setelah melahirkan. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengontrol berat badan selama kehamilan agar tidak banyak mengalami peningkatan.

Padahal, pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat ditentukan oleh pemenuhan nutrisinya sejak awal kehamilan. Membatasi asupan nutrisi dan menekan nafsu makan bukanlah pilihan yang baik bagi wanita hamil demi kesehatan bayinya.

"Berat badan rendah atau penurunan berat badan selama kehamilan meningkatkan risiko terhadap masalah neurologis yang ireversibel atau tidak dapat diperbaiki pada bayi," jelas Catherine Hansen, MD, MPH, ahli ginekologi di University of Texas Medical Branch, seperti dilansir Self, Minggu (10/2/2013).

Kurangnya kalori dapat menyebabkan berat lahir bayi yang rendah, pertumbuhan terhambat dan bayi tidak dapat berkembang dengan baik. Selain itu, risiko kelahiran prematur juga meningkat yang menempatkan bayi pada risiko kesehatan yang lebih besar akibat kelahiran yang terlalu dini, seperti gangguan pernapasan.

Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan penambahan berat badan selama kehamilan, karena hal tersebut normal. Kebanyakan wanita harus mendapatkan berat badan kehamilan yang sehat yaitu mengalami peningkatan berat badan sekitar 12,5 hingga 17,5 Kg.

Menurut pedoman kesehatan kehamilan, penambahan berat badan yang hanya 5,5 hingga 10 Kg masih dianggap sebagai kehamilan yang berisiko. Lupakan persoalan bentuk tubuh sejenak selama kehamilan dan tingkatkan berat badan Anda untuk mendukung kesehatan bayi Anda.

Jika Anda mengalami kesulitan untuk meningkatkan berat badan, tips berikut ini dapat membantu Anda:

1. Minum milkshake setiap hari untuk mendapatkan dorongan kalori dan kalsium.
2. Makan makanan padat gizi dengan lemak baik, seperti alpukat dan kacang-kacangan.
3. Ngemil buah kering agar Anda cenderung makan lebih banyak dan mendapatkan kalori yang lebih sehat.
4. Sering ngemil makanan yang sehat
http://health.detik.com

Ibu Hamil yang Flu Parah Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi Kehamilan


Virus flu diketahui dapat berbahaya bagi beberapa orang, seperti anak-anak, lansia, orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, dan wanita hamil karena dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Bahkan, wanita hamil yang terserang flu parah dapat mengalami komplikasi kehamilan yang serius.

Flu dapat menyebabkan perubahan besar pada sistem kekebalan tubuh serta kondisi paru-paru dan jantung wanita hamil. Hal ini tentu dapat membahayakan kondisi kesehatan sang ibu serta bayi dalam kandungannya.

Jika flu berkembang menjadi pneumonia (radang paru-paru), kapasitas paru-paru ibu hamil dapat berkurang dan bayi dalam kandungan tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada bayi kelak ketika telah dilahirkan.

Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita flu parah memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kematian janin atau bayi dalam kandungan. Cara terbaik untuk mencegah agar flu tidak mempengaruhi wanita hamil, Anda perlu mendapatkan vaksinasi flu.

Sebelumnya, beberapa wanita disarankan untuk menghindari vaksinasi flu dengan alasan dapat menyebabkan keguguran. Namun penelitian terbaru dari Norwegia menemukan bahwa vaksinasi flu aman untuk ibu hamil, seperti ditulis EmpowHer, Kamis (7/2/2013).

Para ilmuwan di Norwegia mempelajari 117.000 kehamilan dan menemukan bahwa wanita yang mendapat vaksinasi flu tidak memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap keguguran. Sebaliknya, wanita hamil yang mendapat vaksin flu, tetapi masih terserang flu memiliki risiko keguguran yang lebih rendah dari wanita hamil yang tidak mendapat vaksinasi flu sama sekali.

Studi tersebut juga menemukan bahwa vaksin flu sebenarnya dapat mencegah komplikasi kehamilan akibat flu. Para peneliti juga telah menghitung bahwa risiko kematian janin hampir 2 kali lipat lebih tinggi pada wanita hamil yang tidak divaksinasi.

Anda juga harus lebih waspada terhadap faktor-faktor risiko tertularnya virus flu dengan cara lebih rajin mencuci tangan setelah berjabat tangan atau menggunakan fasilitas umum dan menghindari kontak dengan orang yang telah terinfeksi flu.
http://health.detik.com/read/2013/02/07/083010/2163417/1299/ibu-hamil-yang-flu-parah-lebih-berisiko-terhadap-komplikasi-kehamilan?l771108bcj

Infeksi Saat Hamil Tingkatkan Risiko Autisme pada Anak Hingga 43%


Autisme merupakan sindrom kompleks yang penyebab utamanya belum diketahui. Tetapi beberapa faktor lingkungan diduga dapat meningkatkan risiko autisme pada anak, misalnya seperti peradangan atau infeksi yang terjadi selama kehamilan.

Hati manusia memproduksi C-reactive protein (CRP) yang jumlahnya akan meningkat ketika terjadi peradangan atau infeksi di seluruh tubuh bagian manapun.

Peneliti menganalisis sampel darah dari wanita hamil di Finlandia, yang terdiri dari 1,6 juta spesimen dari sekitar 810.000 wanita. Kemudian peneliti menganalisis tingkat CRP dalam serum ibu hamil tersebut untuk mengetahui apakah terjadi infeksi selama kehamilan.

Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa sekitar 677 kasus anak autisme, diketahui lahir dari ibu yang memiliki tingkat CRP yang tinggi atau pernah mengalami infeksi. Ibu hamil yang berada pada tingkat CRP tertinggi, memiliki peningkatan risiko autisme sebanyak 43 persen di luar faktor usia ibu, usia ayah, jenis kelamin, kelahiran sebelumnya, status sosial ekonomi, kelahiran prematur atau berat lahir bayi.

"Peningkatan CRP merupakan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami respon terhadap peradangan, misalnya infeksi virus atau bakteri," kata Alan Brown, MD, pemimpin penelitian dari Columbia University College of Physicians and Surgeons, seperti dilansir emaxhealth, Selasa (29/1/2013).

Semakin tinggi tingkat CRP pada ibu, semakin besar risiko autisme pada anak. Brown menyatakan bahwa seorang wanita harus lebih memperhatikan kesehatannya agar tidak terinfeksi virus atau bakteri yang meningkatkan risiko autisme pada anak.

Berikut adalah tips yang perlu diperhatikan oleh wanita hamil untuk mencegah infeksi dan menurunkan risiko autisme pada anak:

1. Lebih sering mencuci tangan
Salah satu cara untuk menghindari infeksi adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama setelah melakukan pekerjaan berikut:

- menggunakan kamar mandi
- menyentuh daging mentah, telur mentah, atau mencuci sayuran
- menyiapkan makanan dan makan
- berkebun atau menyentuh kotoran atau tanah
- menyentuh hewan peliharaan
- berada di sekitar orang yang sakit
- menyentuh air liur (ludah)
- merawat dan bermain dengan anak-anak
- mengganti popok

Jika sabun dan air mengalir tidak tersedia, Anda dapat menggunakan alkohol berbasis gel pembersih tangan.

2. Jangan berbagi alat makan dengan anak-anak
Anak-anak lebih mudah terinfeksi bakteri dan virus saat bermain di luar rumah dan dapat menularkannya kepada anggota keluarga yang lain melalui air liur atau urin. Cucilah tangan Anda setelah mengganti popok anak dan jangan menggunakan alat makan yang sama dengan anak.

3. Masak daging hingga benar-benar matang
Daging mentah atau daging setengah matang mungkin mengandung bakteri berbahaya, sehingga pastikan untuk memasak daging hingga benar-benar matang.

4. Hindari susu atau produk susu yang tidak dipasteurisasi
Jangan minum susu atau makan keju yang tidak disertai label pasteurisasi. Produk yang tidak dipasteurisasi dapat mengandung bakteri berbahaya.

5. Jauhi tikus liar atau hewan peliharaan dan kotorannya
Beberapa tikus liar dapat membawa virus berbahaya dan kotoran hewan peliharaan mungkin mengandung parasit. Jangan melakukan kontak langsung dengan kotoran hewan dan cucilah tangan hingga bersih setelah menyentuh hewan peliharaan.

6. Mendapatkan pengujian penyakit menular seksual (PMS), seperti HIV dan hepatitis B
Beberapa orang yang memiliki HIV, hepatitis B, atau PMS tidak merasa sakit, sehingga penting bagi wanita hamil untuk mendapatkan uji laboratorium dan memastikan bahwa diri Anda bebas dari penyakit tersebut.

7. Vaksinasi
Beberapa vaksinasi dianjurkan oleh dokter sebelum hamil, selama hamil atau setelah melahirkan. Vaksinasi yang tepat pada waktu yang tepat dapat membantu ibu hamil dan bayi agar tetap sehat.

8. Hindari orang yang telah terinfeksi
Jauhi orang-orang yang Anda tahu memiliki infeksi, seperti cacar air atau rubella.
http://health.detik.com/read/2013/01/29/123038/2155091/1299/infeksi-saat-hamil-tingkatkan-risiko-autisme-pada-anak-hingga-43?l771108bcj

Morning Sickness di Trimester Kedua Kehamilan Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi


Wanita hamil yang mengalami morning sickness parah diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap komplikasi kehamilan. Risiko tersebut juga akan semakin meningkat jika morning sickness tetap bertahan hingga trimester kedua kehamilan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa wanita yang tetap mengalami morning sickness hingga trimester kedua kehamilan, 2 kali lebih mungkin mengembangkan developpreeclampsia dan 1,4 kali lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Trimester kedua kehamilan didefinisikan sebagai usia kehamilan antara 12 hingga 21 minggu.

Studi tersebut dilakukan oleh ilmuwan di Swedia terhadap wanita hamil yang dirawat di rumah sakit karena morning sickness parah, yang disebut hiperemesis gravidarum.

Hiperemesis gravidarum menjadi berita internasional bulan lalu ketika Kate Middleton, menantu kerajaan Inggris tersebut menjalani rawat inap selama 4 hari di rumah sakit karena kondisi tersebut. Pekan lalu, media Inggris melaporkan bahwa Middleton menjalani hipnoterapi untuk mengatasi hiperemesis gravidarum.

Morning sickness yang parah dapat menyebabkan kekurangan gizi dan dehidrasi pada wanita hamil dan sebelumnya telah dikaitkan dengan kelahiran prematur. Sebagian besar wanita hamil dapat mengalami mual dan muntah di awal kehamilan dan biasanya akan mereda setelah usia kehamilan mencapai 10 sampai 16 minggu.

"Jika morning sickness tersebut masih bertahan hingga lebih dari 16 sampai 21 minggu, Anda harus waspada dan segera mencari bantuan medis," kata Marie Bolin, pemimpin penelitian dari Uppsala University's Department of Women's and Children's Health.

Morning sickness yang parah diduga disebabkan oleh tingginya tingkat hormon human chorionic gonadotropin (hCG), yang dibuat oleh plasenta dan diproduksi terutama selama trimester pertama kehamilan. Kadar hCG yang tinggi selama trimester kedua bisa mengindikasikan pembentukan plasenta yang abnormal.

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynaecology pada tanggal 30 Januari kemarin, seperti dilansir foxnews, Kamis (31/1/2013).
http://health.detik.com/read/2013/02/01/073138/2158231/1299/ltigtmorning-sicknesslt-igt-di-trimester-kedua

Berlebihan Minum Kopi Saat Hamil Bikin Bayi Lahir Terlalu Mungil


Ketagihan kopi susah diatasi, tak terkecuali pada ibu hamil. Padahal menurut penelitian, berlebihan mengonsumsi kopi saat hamil berisiko memicu kelahiran bayi dengan berat badan terlalu rendah. Risikonya, bayi tumbuh tidak sehat.

Kesimpulan ini didasarkan pada hasil penelitian terhadap 60 ribu ibu hamil di Norwegia selama kurun waktu 10 tahun. Penelitian tersebut membandingkan berapa banyak kopi yang dikonsumsi para ibu hamil dengan berat badan bayi pada saat lahir.

Hasil perbandingan menunjukkan bahwa konsumsi kopi dengan kandungan kafein 200-300 mg berisiko menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang dikategorikan kecil. Bukan itu saja, konsumsi kopu yang berlebihan juga memperpanjang usia kehamilan hingga 62 persen.

"Terlahir kecil bisa membuat bayi mengalami gangguan pertumbuhan yang bisa memicu obesitas, diabetes dan beberapa jenis kanker saat dewasa," kata Dr Euan Paul dari British Coffee Association seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (19/2/2013).

Agak berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu, konsumsi kopi yang berlebihan pada ibu hamil dalam penelitian ini justru memperlama masa kehamilan selama 8 jam tiap cangkirnya. Padahal menurut beberapa penelitian sebelumnya, konsumsi kopi justru bisa memicu kelahiran prematur.

Sebagai gambaran, secangkir kopi instan mengandung rata-rata 100 mg hingga 140 mg kafein, sedangkan kopi yang dijual di coffeeshop bisa mengandung 300 mg kafein. Di negara-negara Skandinavia, anjuran minum kopi untuk ibu hamil tidak lebih dari 200 mg.

Perlu dicatat pula, kandungan kafein tidak hanya ditemukan pada kopi. Beberapa jenis minuman lainnya seperti teh, minuman bersoda dan bahkan cokelat juga mengandung kafein. Berbagai minuman tersebut kadang terlupakan dan tidak diperhitungkan kandungan kafeinnya.
http://health.detik.com/read/2013/02/19/112049/2173703/1299/berlebihan-minum-kopi-saat-hamil-bikin-bayi-lahir-terlalu-mungil?l771108bcj

Ibu Hamil yang Obesitas Bisa Pengaruhi Perkembangan Otak Janin


Ibu hamil yang mengalami kegemukan atau obesitas telah dikaitkan dengan berbagai risiko kehamilan dan cacat lahir pada bayi. Bahkan studi terbaru menunjukkan bahwa hal ini juga berpengaruh terhadap terhambatnya perkembangan otak janin.

Studi terbaru yang dilakukan oleh Mother Infant Research Institute (MIRI) di Tufts Medical Center di Boston, menunjukkan bahwa ibu hamil yang obesitas menjadi alasan perkembangan yang abnormal pada otak janin pada awal trimester kedua kehamilan.

Penelitian tersebut melibatkan 16 wanita hamil yang dikelompokkan berdasarkan gemuk dan kurus. Peneliti menemukan bahwa janin dari kehamilan wanita gemuk cenderung mengalami hambatan dalam proses apoptosis. Apoptosis merupakan proses alami pembentukan otak yang sangat penting untuk perkembangan janin.

"Wanita gemuk yang memiliki anak yang juga gemuk tidak terlalu mengejutkan, tetapi mungkin akan mengejutkan jika hal tersebut berpengaruh besar terhadap perkembangan otak anak," kata Dr. Andrea Edlow, penulis utama studi tersebut.

Wanita yang telah mengalami kegemukan sejak sebelum konsepsi atau pembuahan memiliki risiko yang lebih besar terhadap terhambatnya perkembangan otak janin pada awal trimester kedua kehamilan. Hal ini dapat meningkatkan risiko anak terhadap kelainan perkembangan saraf pasca kelahiran seperti autisme.

Namun, masih terlalu dini untuk mengetahui dengan pasti implikasi dari temuan ini, meskipun telah jelas bahwa ibu hamil yang obesitas dapat berpengaruh ke perkembangan anaknya.

Studi ini bukanlah yang pertama kali mengaitkan antara obesitas saat hamil berkaitan dengan perkembangan bayi. Pada tahun 2009, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Newcastle University dan dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association menemukan bahwa ibu hamil yang obesitas ibu lebih mungkin memiliki anak dengan cacat lahir.

Temuan tersebut dipublikasikan tanggal 15 Februari dan dipresentasikan pada Pregnancy Meeting di San Francisco, California, seperti dilansir Naturalnews, Selasa (19/2/2013).
http://health.detik.com/read/2013/02/19/143015/2174031/1299/ibu-hamil-yang-obesitas-bisa-pengaruhi-perkembangan-otak-janin

Ini 5 Kondisi Medis Tak Menyenangkan yang Sering Dialami Ibu Hamil


Kehamilan adalah masa-masa yang menyenangkan bagi seorang wanita, tetapi ada pula hal-hal yang kurang menyenangkan seperti infeksi kandung kemih, gatal-gatal pada vagina hingga wasir. Risiko terhadap kondisi tersebut dapat meningkat ketika Anda hamil.

Berikut adalah 5 kondisi yang tidak menyenangkan selama kehamilan, seperti dilansir Fit Pregnancy, Selasa (26/2/2013) yakni:

1. Infeksi kandung kemih
Dasar panggul terdiri dari otot-otot yang ketat, tetapi selama kehamilan, hormon relaksin akan meningkat dan sedikit mengendurkan otot-otot tersebut untuk mempermudah kelahiran bayi.

Akibatnya, dasar panggul menjadi kurang kencang dan Anda akan lebih mudah mengalami kebocoran urin (inkontinensia) atau lebih memungkinkan invasi dari bakteri penyebab infeksi kandung kemih. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan antibiotik yang aman untuk mengobati infeksi yang aman bagi kehamilan.

2. Bacterial vaginosis
Jika vagina mengeluarkan bau seperti amonia dan mengeluarkan cairan seperti susu, hal ini mungkin disebabkan oleh bacterial vaginosis. Infeksi ini terjadi karena pertumbuhan flora yang berlebihan dalam vagina Anda.

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa bacterial vaginosis terkait dengan kelahiran prematur, sehingga penting bagi Anda untuk melakukan perawatan terhadap infeksi tersebut. Jika bacterial vaginosis terjadi selama trimester pertama, Anda dapat menggunakan pengobatan topikal.

Dokter biasanya akan menunggu sampai trimester kedua untuk memberikan resep obat oral. Para ahli merekomendasikan untuk mengambil kapsul probiotik dua kali sehari bagi wanita hamil dengan atau tanpa bacterial vaginosis.

3. Infeksi ragi
Karena vagina merupakan lingkungan yang sifatnya asam, dapat menjadi tempat berkembangbiak yang baik bagi ragi/jamur. Selain itu, perubahan keseimbangan pH dapat mengurangi populasi bakteri baik di vagina. Seiring dengan meningkatnya jumlah gula dalam cairan vagina yang terjadi selama kehamilan, maka akan lebih tinggi risiko infeksi ragi pada wanita hamil.

Infeksi ragi ditandai dengan warna kemerahan pada vagina, gatal-gatal, dan mengeluarkan cairah vagina dengan debit tinggi. Kondisi ini tidak dianggap sebagai ancaman kesehatan yang serius bagi kehamilan dan janin, tetapi dapat menimbulkan kertidaknyamanan. Anda dapat mengatasinya dengan obat anti-jamur atau kapsul probiotik atas saran dokter.

4. Buang-buang gas
Selama kehamilan, tingkat fluktuasi hormon serotonin yang juga ditemukan dalam usus akan meningkat dan dapat menyebabkan usus lebih banyak bergerak dengan cara yang mengusir gas tidak diperlukan. Untuk mengurangi frekuensi buang gas, jangan makan sambil berbicara karena Anda dapat menelan lebih banyak udara dan jangan makan permen karet.

Hindari makanan yang dapat meningkatkan gas dalam perut, seperti kubis, produk dudu, dan minuman bersoda. Anda juga dapat mengambil probiotik atau obat anti-gas, seperti simetikon yang biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri gas.

5. Wasir
Wasir terjadi ketika pembuluh darah di dekat anus membengkak karena efek hormon kehamilan pada dinding pembuluh darah. Hal ini juga dapat disebabkan karena tekanan pada dasar panggul yang tinggi dari rahim.

Ketika wasir telah berkembang dan menyebabkan kesulitan buang air besar, hal ini dapat menyebabkan pembuluh darah menggelembungkan dan membuat anus tertutup. Vena wasir yang bengkak ini akan mudah berdarah dan menyebabkan rasa sakit, ketika Anda buang air besar dengan tinja yang keras atau sembelit.

Minumlah lebih banyak cairan dan memperbanyak konsumsi makanan berserat atau mengambil suplemen magnesium atas resep dokter dua kali sehari. Untuk meringankan rasa sakit karena wasir, cobalah berendam dalam air hangat yang telah ditaburi garam.
http://health.detik.com/read/2013/02/26/073042/2179641/1299/ini-5-kondisi-medis-tak-menyenangkan-yang-sering-dialami-ibu-hamil